Sukoharjo, 8 April 2026 – Tuberkulosis (TBC) sering kali identik dengan penyakit orang dewasa, padahal nyatanya anak-anak pun memiliki risiko yang sama. Menyadari hal ini, RS Dr. OEN SOLO BARU terjun langsung ke tengah masyarakat dalam rangka memperingati Pekan Tuberkulosis Anak 2026. Mengusung semangat global “Yes! We Can End TB”, rumah sakit berkolaborasi dengan Puskesmas Baki, Kabupaten Sukoharjo, untuk menggelar penyuluhan kesehatan serentak. Langkah ini merupakan aksi nyata dalam memperkuat deteksi dini TBC sejak usia dini.
Kegiatan ini menghadirkan dr. Pendy Handoko, Sp.A, Dokter Spesialis Anak dari RS Dr. OEN SOLO BARU yang juga merupakan anggota aktif Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dalam sesi edukasi yang hangat, dr. Pendy memaparkan fakta penting bahwa sekitar 11% kasus TBC di Indonesia ternyata dialami oleh anak-anak. Angka yang cukup besar ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk tidak lengah.
“Lewat momentum Pekan TBC Anak ini, kami ingin mengajak masyarakat, terutama orang tua, untuk lebih peka terhadap tanda dan gejala pada si kecil. Kuncinya adalah deteksi dini; TBC pada anak itu bisa dicegah dan sangat bisa diobati asalkan ditemukan sejak awal,” jelas dr. Pendy di sela-sela kegiatan.
Fokus Utama pada Kesadaran dan Edukasi
Penyuluhan ini dirancang untuk mencapai beberapa poin krusial, mulai dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa TBC bukanlah penyakit yang hanya menyerang orang tua, melainkan ancaman nyata bagi siapa saja termasuk anak-anak. Melalui edukasi ini, masyarakat juga diajak untuk lebih mengenali ciri-ciri spesifik TBC pada anak yang sering kali terabaikan atau sekadar dianggap sebagai batuk biasa.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai gejala-gejala tersebut, diharapkan para orang tua tidak lagi ragu untuk segera membawa si kecil ke fasilitas kesehatan begitu menemukan gejala klinis yang mencurigakan, sehingga deteksi dini dapat dilakukan secepat mungkin. RS Dr. OEN SOLO BARU berharap sinergi dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas Baki dapat terus berlanjut. Dengan meningkatnya pemahaman terhadap deteksi dini suatu penyakit, mata rantai penularan dapat segera diputus, sehingga generasi masa depan dapat tumbuh lebih sehat dan terlindungi. Melalui edukasi yang tepat, kita diingatkan kembali bahwa TBC bukanlah akhir dari segalanya. Karena TBC bisa dicegah dan disembuhkan, mari kita bergerak bersama. Bersama, kita pasti bisa akhiri TBC!



