DEWANDARU (Eugenia uniflora L.)
Populasi dan Status Konservasi
Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 1 pohon dewandaru yang berlokasi di area Open Space
Status konservasi : Least Concern (2021)
Deskripsi Umum
Dewandaru (Eugenia uniflora) merupakan tumbuhan berbentuk perdu hingga pohon kecil dari famili Myrtaceae (suku jambu-jambuan). Tanaman ini berasal dari wilayah Amerika Selatan beriklim subtropis, dengan sebaran alami meliputi Brasil bagian timur dan selatan hingga Argentina, Paraguay, dan Uruguay. Dewandaru memiliki daun hijau mengilap dengan tunas muda berwarna kemerahan, bunga kecil berwarna putih, serta buah merah berlekuk yang dapat dimakan dan kaya vitamin C.
Di Indonesia, tumbuhan ini dikenal dengan nama ceremai belanda atau dewandaru, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Brazil cherry, Surinam cherry, atau pitanga.
Nama ilmiah Eugenia uniflora pertama kali dipublikasikan oleh Carolus Linnaeus dalam Species Plantarum pada tahun 1753.
Morfologi
Eugenia uniflora merupakan tanaman perdu tahunan yang dapat mencapai tinggi lebih dari 5 meter. Batangnya tegak, berkayu, berbentuk bulat dan berwarna coklat. Daunnya tunggal, tersebar, berwarna hijau dengan bentuk lonjong, ujung dan pangkal meruncing, tepi rata, serta pertulangan menyirip, berukuran lebih dari 5 cm × ±4 cm. Bunganya tunggal, berkelamin ganda, memiliki daun pelindung kecil berwarna hijau. Kelopak bertaju 3–5, benang sari banyak berwarna putih, putiknya silindris, dan mahkota berbentuk kuku berwarna kuning. Buahnya berupa buni bulat berdiameter ±1,5 cm berwarna merah, berbiji kecil, keras, dan coklat. Akar bersifat tunggang berwarna coklat (Hutapea, 1994).
Kandungan Bahan Kimia dan Manfaat
Daun tanaman Eugenia uniflora mengandung flavonoid, saponin, dan tanin (Hutapea, 1994). Flavonoid dari ekstrak daun berupa myricetrin, myrcitrin, gallocatechin, quercetin, dan quercitrin (Schmeda-Hirschmann et al, 1987). Senyawa tannin yang diisolasi dari fraksi aktif Eugenia uniflora antara lain gallocatechin, oenothein B, eugeniflorins D(1) and D(2) (Lee et al, 2000).
Buah dan daun Eugenia uniflora digunakan sebagai peningkat kualitas astringent dan mengurangi tekanan darah tinggi (Bandoni et al, 1972). Hasil decocta daun Eugenia uniflora di Paraguai digunakan untuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Selain itu juga dapat menurunkan metabolisme lipid dan dapat digunakan sebagai efek proteksi pada trigliserida dan level lipoprotein yang sangat rendah (Ferro et al., 1988).
Daun Eugenia uniflora sebagai obat tradisional berkhasiat sebagai obat mencret (Hutapea, 1994). Aksi anti infamasi yang tinggi juga ditemukan pada daun Eugenia uniflora (Scapoval et al., 1994). Pada Brazilian folk medicine, buah Eugenia uniflora digunakan sebagai antidiare, diuretik, antirematik, anti-febrile, dan antidiabetik. Selain itu, ekstrak daun Eugenia uniflora juga sebagai agen hipotensif (Consolini et al., 2000) dan menghambat peningkatan level trigliserida dan glukosa plasma (Matsumura et al., 2000).
Tanaman ini dimanfaatkan secara luas sebagai pangan, terutama buahnya yang dapat dikonsumsi segar maupun diolah menjadi selai, saus, sirup, jus, es krim, dan cuka, serta kaya vitamin C, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, riboflavin, dan niasin. Dalam pengobatan tradisional, infus daun digunakan sebagai stomakik, antipiretik, dan astringen, rebusan daun dimanfaatkan untuk demam dan flu, serta buahnya dipercaya membantu mengontrol tekanan darah. Manfaat lainnya meliputi kulit batang yang mengandung tanin tinggi untuk penyamakan kulit, daun beraroma minyak atsiri yang dapat berfungsi sebagai pengusir serangga, serta pemanfaatannya sebagai tanaman hias, bonsai, dan pagar hidup. Tanaman ini juga menarik lebah, kupu-kupu, dan burung, namun perlu diperhatikan bahwa bijinya tidak boleh dimakan dan aroma kuat saat pemangkasan dapat mengiritasi saluran pernapasan pada individu sensitif.
Habitat
Eugenia uniflora tumbuh baik di wilayah tropis dan subtropis, terutama pada dataran rendah hingga ketinggian ±1.800 m dpl.
Kondisi tumbuh optimal:
-
Matahari penuh hingga setengah teduh
-
Tanah subur dan lembap, toleran terhadap genangan sementara
-
Curah hujan sedang (±1.000 mm/tahun)
-
Tahan kekeringan ringan
-
Tidak toleran terhadap salinitas
-
Suhu optimal sekitar 24 °C; toleran hingga −2 °C (kerusakan ringan), rusak berat pada −5 °C .
Berasal dari pantai timur Amerika Selatan, termasuk Suriname, Guyana, Prancis Guyana, Brasil bagian selatan, serta sebagian Paraguay, Argentina, dan Uruguay.


