JAKARANDA (Jacaranda mimosifolia)
Populasi dan Status Konservasi
Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 2 pohon jakaranda yang berlokasi di area Open Space
Status Konservasi : Vulnerable under criteria A2cd (2020)
Deskripsi Umum
Jakaranda (Jacaranda mimosifolia) adalah tumbuhan berbentuk pohon dari famili Bignoniaceae yang berasal dari wilayah Amerika Selatan bagian tengah dan timur, meliputi Uruguay, Paraguay, Bolivia, Brasil, serta beberapa bagian Argentina. Tanaman ini berasal dari bioma beriklim subtropis dan telah banyak diperkenalkan sebagai tanaman hias di berbagai daerah tropis karena keindahan bunganya yang mencolok. Selain bernilai estetika, jakaranda juga berfungsi sebagai peneduh dan penahan angin, sumber nektar bagi lebah, serta kayunya dimanfaatkan untuk pembuatan tiang dan kerajinan sederhana. Secara tradisional, J. mimosifolia juga digunakan sebagai tanaman obat.
Nama ilmiah Jacaranda mimosifolia pertama kali dipublikasikan oleh botanis David Don pada tahun 1822.
Morfologi
Tanaman ini memiliki batang relatif pendek dan tidak selalu lurus dengan diameter hingga ±40–50 cm, berkulit cokelat pucat hingga abu-abu yang beralur dan bersisik memanjang. Tajuknya menyebar hingga berbentuk vas dengan kerapatan terbuka, kayunya tergolong sedang, dan cabang rentan patah bila pembentukan struktur kurang baik. Daunnya majemuk menyirip ganda, tersusun berseling, tampak halus menyerupai pakis, bersifat gugur tanpa perubahan warna mencolok sebelum rontok. Bunganya berbentuk terompet, berwarna biru–ungu hingga lavender, tersusun dalam malai terminal, sangat menarik, dan umumnya muncul saat pohon hampir tidak berdaun. Buah berupa kapsul kayu bulat pipih berwarna cokelat kehitaman saat masak, bertahan lama di pohon, dan berisi banyak biji pipih bersayap yang mudah tersebar oleh angin (Orwa et al. 2009; Gilman & Watson 1993).
Kandungan Bahan Kimia dan Manfaat
Triterpen, flavonoid, asetosida, kuinin, turunan fenilpropanoid, glikosida flavonol, isoquercitrin, asam lemak dan antosianin, tanin, saponin, steroid, glukosida feniletanoid, jacaranone
Tanaman hias unggulan dengan nilai estetika tinggi
Pohon peneduh ringan dengan tajuk terbuka
Tanaman spesimen dan pohon jalan di kawasan perkotaan
Sumber pakan lebah (apikultur)
Kayu dimanfaatkan sebagai kayu bakar dan bahan pertukangan ringan
Kulit batang dan daun digunakan secara tradisional sebagai obat luka dan penyakit tertentu (Orwa et al. 2009; Gilman & Watson 1993)
Habitat
J. mimosifolia merupakan tanaman dari daerah tropis dan subtropis, umumnya banyak ditemukan tumbuh di daerah yang lebih kering atau mesik, padang rumput, padang semak, hutan tepi sungai dan habitat tepi sungai lainnya, juga di hutan dan di tempat yang terlindung seperti di jurang yang berhutan. Tumbuh paling baik di daerah dataran tinggi hingga 2.400 m dengan curah hujan tahunan 900-1300 mm, tetapi juga akan mentolerir curah hujan hingga 2000 mm. Suhu siang hari tahunan berada dalam kisaran 20 – 34 °C, tetapi dapat mentolerir 10 – 38 °C. J. mimosifolia menyukai posisi yang cerah, namun tidak tahan terhadap embun beku. Tumbuh dengan baik di tanah lempung berpasir yang dikeringkan dengan baik, meskipun dapat bertahan hidup di tanah dangkal yang lebih miskin. Menyukai tanah dengan pH pada kisaran 6.5 – 7.5, mentolerir 6 – 8.5. J. mimosifolia tidak tahan terhadap tanah yang tergenang air atau tanah liat. Tanaman yang sudah mapan toleran terhadap kekeringan.



