MAHONI (Swietenia mahagoni)
Populasi dan Status Konservasi
Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 1 pohon mahoni yang berlokasi di area Open Space
Status Konservasi : Near Threatened under criteria A2cd (2020)
Swietenia belizensis Lundell
Swietenia candollei Pittier
Swietenia tessmannii Harms
Mahagoni, Maoni atau Moni.
Deskripsi Umum
Mahoni (Swietenia mahagoni) merupakan tumbuhan berbentuk pohon dari famili Meliaceae yang berasal dari kawasan Amerika tropis, dengan sebaran alami mulai dari Florida selatan hingga wilayah Karibia seperti Bahama, Jamaika, Haiti, dan Republik Dominika. Tanaman ini tumbuh di hutan kering hingga lembap pada bioma beriklim tropis basah. Mahoni pertama kali diperkenalkan ke Indonesia melalui Kebun Raya Bogor pada tahun 1872, kemudian dikembangkan secara luas di Pulau Jawa pada akhir abad ke-19. Pohon mahoni dapat tumbuh hingga sekitar 25 meter, memiliki batang kokoh dan kayu berwarna cokelat kemerahan yang bernilai tinggi, tahan terhadap pelapukan dan serangan serangga, sehingga banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan, furnitur, dan alat musik.
Nama ilmiah Swietenia mahagoni pertama kali dipublikasikan oleh botanis Nikolaus Joseph von Jacquin pada tahun 1760.
Morfologi
Mahoni merupakan pohon tahunan dengan tinggi mencapai 3–40 m dan diameter batang hingga ±125 cm. Sistem perakaran berupa akar tunggang yang kuat, dengan batang berbentuk silindris dan berkayu keras. Kulit batang berwarna abu-abu saat muda, kemudian berubah menjadi cokelat tua, beralur, dan mengelupas ketika tua (DLH Boyolali, 2022). Daun majemuk menyirip genap, berwarna hijau muda hingga hijau tua, dengan bentuk anak daun bulat telur, tepi rata, dan ujung runcing. Bunga mahoni berukuran kecil, tersusun dalam malai yang muncul dari ketiak daun, berwarna kuning kecokelatan. Buah berbentuk kapsul lonjong hingga bulat, berkeluk lima, bertekstur keras, berwarna cokelat keabu-abuan, dengan panjang sekitar 12–15 cm. Di dalam buah terdapat biji pipih bersayap berwarna cokelat kehitaman yang berfungsi sebagai alat penyebaran alami (DLH Boyolali, 2022; Ahmad et al., 2019).
Manfaat
Mahoni memiliki berbagai manfaat, antara lain:
Kehutanan dan Perkotaan
Kayu mahoni dimanfaatkan sebagai bahan meubel, furnitur, ukiran, dan kerajinan tangan karena sifatnya yang kuat dan stabil. Di lingkungan perkotaan, mahoni berfungsi sebagai pohon pelindung, peneduh jalan, serta penyerap polutan udara hingga 47–69% (DLH Boyolali, 2022).Kesehatan dan Obat Tradisional
Biji mahoni mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan limonoid yang memiliki aktivitas antidiabetes, antibakteri, antijamur, antipiretik, dan hepatoprotektif. Ekstrak biji dan daun mahoni dilaporkan mampu menurunkan kadar glukosa darah serta memiliki aktivitas antioksidan yang kuat (Ahmad et al., 2019).Manfaat Lain
Kulit batang mahoni digunakan sebagai bahan pewarna alami, getah (blendok) dimanfaatkan sebagai bahan baku lem, dan daun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ekstrak biji mahoni juga berpotensi sebagai pestisida nabati untuk pengendalian hama tanaman (DLH Boyolali, 2022).
Habitat
Mahoni tumbuh baik pada daerah tropis dengan ketinggian hingga 1.500 mdpl, curah hujan 1.524–5.085 mm/tahun, dan suhu udara antara 11–36°C. Tanaman ini toleran terhadap kondisi lahan kering, tanah kurang subur, serta daerah berpasir dan payau.Mahoni memerlukan sinar matahari penuh untuk pertumbuhan optimal dan banyak dijumpai tumbuh di tepi jalan, kawasan permukiman, lahan terbuka, serta hutan tanaman di daerah tropis dan subtropis (DLH Boyolali, 2022).


