MAJA (Aegle marmelos)
Populasi dan Status Konservasi
Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 1 pohon maja yang berlokasi di area Open Space
Status Konservasi : Near Threatened under criteria A2acd (2020)
Deskripsi Umum
Maja (Aegle marmelos) merupakan tumbuhan berbentuk pohon kecil hingga sedang dari famili Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Tanaman ini berasal dari wilayah anak benua India dan tumbuh alami pada bioma beriklim tropis basah hingga monsun.
Nama ilmiah Aegle marmelos pertama kali dipublikasikan oleh botanis José Francisco Corrêa da Serra pada tahun 1800.
Di Indonesia, tanaman ini dikenal sebagai maja atau maja batu, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bael fruit, stone apple, atau wood apple.
Morfologi
Aegle marmelos merupakan pohon berukuran sedang dengan tinggi mencapai 12–15 m, batang relatif pendek, dan percabangan menyebar. Kulit batang tebal, lunak, mengelupas, dan berwarna abu-abu kecokelatan. Cabang muda sering berduri, terutama pada tunas muda (Orwa et al., 2009). Daun bersifat gugur, tersusun berseling, terdiri atas 3–5 anak daun berbentuk oval hingga lonjong dengan ujung runcing dan tepi agak bergerigi. Daun muda berwarna hijau mengilap hingga kemerahan, dan daun tua mengeluarkan bau khas bila diremas. Bunga berwarna kehijauan hingga kuning pucat, harum, tersusun dalam kelompok kecil pada ranting muda. Buah berbentuk bulat hingga lonjong dengan diameter 5–20 cm, kulit keras berwarna hijau keabu-abuan yang berubah menjadi kekuningan saat masak. Daging buah berwarna jingga pucat, bertekstur lembek, aromatik, dan mengandung banyak biji pipih berlendir (Orwa et al., 2009).
Manfaat
Pangan
Buah maja dikonsumsi segar atau diolah menjadi minuman (sherbet), selai, nektar, dan manisan. Di Indonesia, daging buah sering dicampur gula aren sebagai makanan tradisional. Daun muda dan pucuknya juga dimanfaatkan sebagai sayuran dan penyedap makanan (Orwa et al., 2009).Obat Tradisional
Buah muda yang masih mentah sangat dikenal sebagai obat tradisional untuk mengatasi diare dan disentri. Ekstrak buah, daun, dan kulit batang digunakan sebagai laksatif, antipiretik, antidiabetes, serta untuk gangguan pencernaan. Senyawa aktif seperti marmelosin dan tanin berperan dalam aktivitas farmakologis tanaman ini (Orwa et al., 2009).Manfaat Lain
Kayu maja digunakan untuk kerajinan, ukiran, dan gagang alat. Getah buah dimanfaatkan sebagai perekat alami dan bahan campuran plester tahan air. Kulit buah mengandung tanin yang dapat digunakan sebagai bahan penyamak dan pewarna alami. Daun juga dilaporkan memiliki aktivitas insektisida nabati (Orwa et al., 2009).
Habitat
Aegle marmelos tumbuh baik pada daerah tropis hingga subtropis kering, pada ketinggian 0–1.200 mdpl, dengan curah hujan 570–2.000 mm/tahun dan suhu udara antara –6 hingga 48°C. Tanaman ini toleran terhadap berbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir, berbatu, alkalis, hingga tanah kurang subur dengan pH 5–8. Maja dikenal mampu tumbuh dan berbuah pada kondisi lingkungan ekstrem dan lahan marginal, sehingga cocok untuk rehabilitasi lahan kering dan agroforestri (Orwa et al., 2009).


