Droensolobaru

MERICA BRAZIL (Schinus terebinthifolius Raddi)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Rosidae

Ordo : Sapindales

Famili Anacardiaceae

Genus Schinus

Spesies : Schinus terebinthifolius Raddi

Populasi dan Status Konservasi

Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 1 pohon merica brazil yang berlokasi di area Open Space 

Schinus terebinthifolius merupakan tumbuhan berbentuk pohon kecil hingga sedang dari famili Anacardiaceae. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, terutama Brasil, Argentina, dan Paraguay. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Brazilian peppertree atau Christmas berry. Karena keindahan tajuk dan buahnya, spesies ini telah lama diintroduksi sebagai tanaman hias dan kini menyebar luas di berbagai wilayah tropis dan subtropis di luar habitat aslinya, termasuk Australia, Afrika Selatan, kawasan Mediterania, Asia Selatan, serta Amerika Serikat. Di beberapa daerah, khususnya Florida dan Hawaii, tanaman ini berkembang sangat cepat dan dikenal sebagai spesies invasif. 

Schinus terebinthifolius tumbuh sebagai pohon kecil setinggi 3–10 m, kadang mencapai 15 m, dengan diameter batang 10–30 cm dan dapat mencapai 60 cm pada kondisi optimal. Batang dapat tumbuh tunggal atau bercabang banyak (multi-stemmed) dengan cabang melengkung. Daun majemuk menyirip, panjang hingga 40 cm, terdiri atas 2–8 pasang anak daun berbentuk lonjong hingga lanset, berpermukaan licin, tepi rata hingga sedikit bergerigi. Daun mengeluarkan aroma khas resin ketika diremas. Bunga berwarna putih kehijauan, tersusun dalam malai terminal, dan tanaman bersifat dioecious (bunga jantan dan betina pada individu berbeda). Buah berupa drupa bulat kecil berdiameter 4–5 mm, berwarna merah terang saat masak, dan tersusun rapat dalam tandan (Orwa et al. 2009; Motooka et al. 2003)

Buah lada Brasil dimanfaatkan sebagai bumbu masak dan pengganti lada hitam, terutama di Eropa. Namun penggunaannya perlu dibatasi karena potensi toksisitas pada hewan tertentu (Orwa et al. 2009).

Kayu digunakan secara lokal untuk tiang, kayu bakar, dan arang, meskipun tidak memiliki nilai komersial tinggi (Orwa et al. 2009).

Tanaman ini menghasilkan resin, tanin, dan minyak atsiri yang memiliki aktivitas antimikroba dan pestisida alami. Dalam pengobatan tradisional, bagian tanaman digunakan untuk berbagai keluhan kesehatan (Orwa et al. 2009).

Digunakan untuk pengendalian erosi, stabilisasi pasir pantai, reklamasi lahan terdegradasi, serta sebagai tanaman hias dan pagar hidup. Namun pemanfaatan ini harus disertai pengendalian ketat untuk mencegah penyebaran invasif (Motooka et al. 2003; Orwa et al. 2009).

Merica Brasil memiliki toleransi lingkungan yang sangat luas dan dapat tumbuh pada ketinggian 0–2.000 mdpl, suhu 12–26°C, serta curah hujan 950–2.200 mm/tahun. Tanaman ini mampu tumbuh pada tanah ringan hingga berat, tanah asam, dan kondisi tergenang musiman. Habitat alaminya meliputi tepi hutan, semak belukar, daerah riparian, savana kering, dan lahan terbuka. Di wilayah introduksi, tanaman ini sering membentuk tegakan rapat yang sulit dikendalikan (Orwa et al. 2009; Motooka et al. 2003).