Droensolobaru

PALEM PHOENIX (Phoenix roebelinii)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Subkelas : Arecidae

Ordo : Arecales

Famili Arecaceae

Genus Phoenix

Spesies Phoenix roebelenii O’Brien

Populasi dan Status Konservasi

Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 6 pohon palem phoenix yang berlokasi di area Open Space 

Phoenix roebelenii merupakan tumbuhan berbentuk perdu hingga palem kecil dari famili Arecaceae (suku pinang-pinangan). Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim subtropis dengan wilayah sebaran alami meliputi Tiongkok bagian selatan (Yunnan) hingga kawasan Indo-China utara.

Palem Phoenix memiliki tinggi rata-rata 6–12 kaki (±2–4 m) dengan batang tunggal yang tegak dan ramping. Daunnya majemuk menyirip (odd pinnately compound), berwarna hijau, dengan anak daun sempit, memanjang, dan tersusun spiral. Pelepah daun melengkung anggun, dengan duri tajam pada pangkal tangkai daun. Bunganya kecil, berwarna putih, tidak mencolok, dan muncul terutama pada musim semi. Buah berbentuk bulat kecil berukuran ±0,5–1 inci, berwarna hitam hingga merah tua saat masak, namun tidak mencolok secara visual (Gilman & Watson, 1994; Iossi et al., 2006) 

Manfaat utama Phoenix roebelenii adalah sebagai tanaman hias dan elemen estetika lanskap. Tanaman ini banyak digunakan sebagai tanaman pot indoor, penghias teras, taman tropis, serta penanaman aksen di area publik. Selain itu, palem ini juga dikenal sebagai tanaman non-toksik dan memiliki potensi sebagai tanaman pemurni udara dalam ruang 

Secara alami dan dalam budidaya, Palem Phoenix tumbuh optimal pada daerah beriklim tropis hingga subtropis. Tanaman ini menyukai cahaya matahari penuh hingga teduh parsial, tanah berdrainase baik (lempung, pasir, maupun liat), serta kelembapan tanah sedang. Toleransi terhadap kekeringan tergolong sedang, sementara toleransi terhadap salinitas rendah hingga sedang. Tanaman ini hanya cocok ditanam di daerah bebas embun beku dan sensitif terhadap suhu dingin ekstrem (Gilman & Watson, 1994).