POHON SOSIS (Kigelia africana)
Populasi dan Status Konservasi
Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 1 pohon sosis yang berlokasi di area Open Space
Status konservasi : Least Concern (2017)
Deskripsi Umum
Kigelia africana adalah salah satu spesies tumbuhan berbentuk pohon dari famili Bignoniaceae. Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim tropis kering dan sabana di kawasan Afrika tropis.
Nama ilmiah Kigelia africana pertama kali dipublikasikan oleh botanis Jean-Baptiste Lamarck pada tahun 1849.
Nama lokal dan umum di Indonesia adalah kigelia, pohon sosis, pohon mentimun
Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal dengan sebutan sausage tree karena bentuk buahnya yang memanjang dan menggantung.
Morfologi
Kigelia pinnata dapat tumbuh hingga 25 m dengan tajuk padat dan membulat. Kulit batang berwarna abu-abu, relatif halus pada pohon dewasa, dan dapat mengelupas tipis. Daun tersusun berhadapan, bertipe majemuk menyirip, dengan 3–5 pasang anak daun dan satu anak daun terminal. Anak daun berbentuk lonjong, bertekstur agak kasar, berwarna hijau kekuningan di permukaan atas dan lebih pucat di bagian bawah. Bunga berukuran besar, mencolok, berwarna merah marun gelap dengan urat kuning, berbentuk seperti cawan, berbau kurang sedap, dan tersusun dalam rangkaian menggantung. Penyerbukan terutama dilakukan oleh kelelawar. Buah sangat khas, berbentuk silindris memanjang seperti sosis, dapat mencapai panjang hingga 1 m dan berat hingga 12 kg, berwarna cokelat keabu-abuan, dengan banyak biji yang tertanam dalam daging buah berserat (Orwa et al. 2009).
Manfaat
Kandungan kimia
- Iridoid (specioside, verminoside, minecoside), kuinon (lapachol, dehydro α-lapachone, 2-acetylfuro-1,4-naphthoquinone, kigelinol, kigelinone, isokigelinol, pinnatal, isopinatal, norviburtinal, sonovoburtinal, kigelinone, tecomaquinone-1, kojic acid, 2-(1-Hydroxyethyl)-naphtho[2,3-b] furan-4,9-quinone, 2-acetylnaphtho[2,3-b] furan-4,9-quinon, 2-(1-hydroxyethyl) naphtho [2,3-b] furan-4,9-dione), senyawa fenolik (p-Coumaric acid, caffeic acid, ferulic acid, atranorin, nonacosanoic acid, 2-(4-hydroxyphenyl) ethyl ester, luteolin, luteolin 7-O-glucoside, 6-hydroxyluteolin, 6-p-coumaroyl-sucrose, kigeliol, balaphonin), kumarin, sterol (β-sitosterol, stigmasterol, γ-sitosterol), triterpen (asam oleanolat, asam pomolat, 2β,3β,19α-Trihydroxy-urs-12-en-28-oic acid), diterpen (phytol, 3-Hydro-4,8-phytene), flavonoid, tanin, alkaloid, saponin.
- Kigelia pinnata memiliki beragam manfaat, baik ekologis maupun sosial-ekonomi. Secara tradisional, bagian tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat-obatan untuk mengobati luka, infeksi kulit, gangguan pencernaan, rematik, hingga penyakit menular tertentu. Kayunya digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembuatan perabot sederhana, alat rumah tangga, peti, dan perahu tradisional. Buahnya dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami, bahan fermentasi minuman tradisional, serta bahan kosmetik dan obat luar. Selain itu, K. pinnata juga berfungsi sebagai pohon peneduh, tanaman ornamental, pengendali erosi, dan tanaman lanskap jalan, meskipun perlu perhatian karena buahnya yang berat dapat membahayakan jika jatuh (Orwa et al. 2009).
Habitat
Secara alami, Kigelia pinnata tumbuh di sabana basah, hutan terbuka, hutan riparian, dan sepanjang tepi sungai. Spesies ini ditemukan pada ketinggian 0–1.800 m dpl, dengan curah hujan tahunan sekitar 600–1.400 mm. Tanaman ini toleran terhadap berbagai jenis tanah, terutama tanah lempung sedang hingga tanah gambut, dan tumbuh optimal pada daerah tropis dengan suhu hangat. K. pinnata tidak tahan terhadap embun beku dan lebih sesuai untuk daerah beriklim panas hingga sedang (Orwa et al. 2009).


