TANJUNG (Mimusops elengi L.)
Populasi dan Status Konservasi
Berdasarkan hasil inventarisasi terbaru, terdapat 1 pohon tanjung yang berlokasi di area Open Space
Status konservasi : Least Concern (2019)
Deskripsi Umum
Tanjung merupakan tumbuhan berbentuk pohon dari famili Sapotaceae (suku sawo-sawoan). Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Mimusops elengi ini berasal dari bioma beriklim tropis basah dengan rentang sebaran alami mulai dari India selatan, Sri Lanka, Kepulauan Andaman, Myanmar, Indo-China, hingga Afrika tropis (antara lain Ghana, Tanzania, Mozambik, Réunion, dan Mauritius) serta meluas sampai Vanuatu.
Indonesia: tanjung, sawo manuk (Jawa), karikis, keupela cange (Aceh), wilaja (Bali), tanjong (Bugis)
Inggris: spanish cherry
Nama ilmiah Mimusops elengi pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carolus Linnaeus dalam Species Plantarum pada tahun 1753.
Sinonim ilmiah:
Diospyros longipes Hiern
Imbricaria perroudii Montrouz.
Kaukenia elengi (L.) Kuntze
Kaukenia javensis (Burck) Kuntze
Kaukenia timorensis (Burck) Kuntze
Magnolia xerophila P.Parm.
Manilkara parvifolia (R.Br.) Dubard
Mimusops elengi f. longepedunculata (Bruck) H.J.Lam
Mimusops elengi var. longepedunculata Bruck
Mimusops elengi var. parvifolia (R.Br.) H.J.Lam
Mimusops javensis Burck
Mimusops latericia Elmer
Mimusops lucida Poir.
Mimusops parvifolia R.Br.
Mimusops timorensis Burck
Morfologi
Tanjung (Mimusops elengi L.) merupakan pohon berkayu keras berukuran sedang hingga besar, dengan tinggi dapat mencapai 15–30 m. Batang tumbuh tegak, silindris, dan memiliki kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan hingga kehitaman. Kayunya dikenal keras, kuat, dan awet. Tajuk pohon berbentuk membulat dan sangat rindang, menjadikannya pohon peneduh yang baik. Daunnya bertipe tunggal, tersusun berseling, berbentuk lonjong hingga elips dengan tepi rata dan permukaan licin mengilap. Bunga berukuran kecil, berwarna putih kekuningan, tersusun soliter atau berkelompok kecil, dan memiliki aroma harum khas. Buah berbentuk bulat hingga lonjong, berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kuning jingga ketika masak, dengan satu biji di dalamnya (Shadikin & Kurniawan, 2019).
Manfaat
Mimusops elengi L. (Tanjung) kaya akan berbagai senyawa fitokimia yang berkontribusi pada sifat-sifatnya yang bermanfaat. Secara umum, tanaman ini mengandung saponin, tanin, dan alkaloid yang melimpah, terutama ditemukan di bagian kulit kayu dan daunnya. Selain itu, bunga tanjung dikenal mengandung berbagai flavonoid dan glikosida, yang memberikan aroma khasnya dan juga berperan sebagai antioksidan. Buah tanjung, di samping karbohidrat dan serat, mengandung beberapa asam lemak dan vitamin. Berbagai penelitian telah mengidentifikasi keberadaan senyawa seperti lupeol, beta-sitosterol, dan quercetrin di berbagai bagian tanaman ini, yang mendasari penggunaan tradisionalnya dalam pengobatan.
Tanjung merupakan tanaman yang multifungsi. Kayunya dimanfaatkan untuk konstruksi berat dan ringan, seperti jembatan, perahu, rangka bangunan, lantai, serta daun pintu karena sifatnya yang kuat dan tahan lama.
Selain itu, hampir seluruh bagian tanaman akar, kulit batang, daun, bunga, dan buah digunakan dalam pengobatan tradisional, antara lain sebagai bahan obat penurun panas, gangguan pencernaan, dan obat luar. Dari aspek lingkungan, pohon tanjung sangat bernilai sebagai tanaman peneduh, penghijauan kota, pengendali iklim mikro, daerah resapan air, serta pendukung keanekaragaman hayati. Nilai estetika tajuk dan bunga yang harum juga menjadikannya populer sebagai pohon tepi jalan dan tanaman taman (Shadikin & Kurniawan, 2019)
Habitat
Mimusops elengi tersebar luas di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik pada daerah tropis dengan suhu hangat dan curah hujan sedang hingga tinggi. Tanjung dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah lempung dan berpasir, selama memiliki drainase yang baik. Tanaman ini toleran terhadap kondisi lingkungan perkotaan dan sering dijumpai di pekarangan, tepi jalan, kawasan permukiman, serta hutan kota, sehingga cocok untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan dan penataan ruang hijau (Shadikin & Kurniawan, 2019).



